Skip to content

MENEMUKAN KELEZATAN IBADAH DALAM MAHABBAH

15 April 2009

MENEMUKAN KELEZATAN IBADAH DALAM MAHABBAH

Motivasi seseorang untuk beribadah dengan giat dan tekun, adalah perasaan takut akan siksa Allah I, dan harapan akan mendapatkan pahala dari-Nya. Namun, siksa dan pahala adalah dua hal yang tidak bisa dirasakan langsung di dunia. Untuk mendapatkan kelezatan ibadah dan manisnya penghambaan diri yang utuh, diperlukan satu perasaan lagi, yaitu ‘mahabbah’ atau cinta kepada Allah.

Bagaikan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, tapi dengan kepalanya ia menentukan arah terbangnya, dan tujuan yang akan di tempuhnya, dan dengan kepalanya pula ia merasakan ni’matnya terbang. Kedua sayap itu adalah khauf (perasaan takut akan siksa Allah) dan roja (harapan akan pahala dari Allah), sementara kepala adalah mahabbah (cinta kepada Allah).

Kecintaan seorang hamba kepada Allah I yang merupakan inti dari ibadah, haruslah berada di atas segala kecintaan yang dimilikinya, baik kecintaan kepada orang tua, istri dan anak, harta dan kedudukan, juga kecintaannya kepada seseorang yang dikagumi atau dihormati. Dalam hal ini, Allah I memberi peringatan keras, kepada orang yang mencintai selain Allah melebihi cinta kepada-Nya :

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ" (التوبة : 24)

“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (hukuman)Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah ; 24)

Di ayat lain, Allah I mengabarkan kerugian yang sangat besar di akhirat kelak, bagi orang yang menyamakan cintanya kepada selain Allah dengan cinta kepadaNya:

" وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ " (البقرة :165)

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah ; 165)

Bila begitu beratnya siksa bagi orang yang cintanya kepada selain Allah sama dengan cintanya kepada Allah, maka apalagi orang yang cintanya kepada selain Allah melebihi cintanya kepada Allah, tentu lebih berat lagi. Na’uudzu billah.

Rasulullah r dan para shahabat, adalah orang-orang yang tidak dirgukan lagi kecintaannya kepada Allah I. Mereka lebih mencintai-Nya dari pada diri mereka sendiri.

Kisah berikut ini, adalah salah satu bukti kecintaan shahabat kepada Allah dan Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, yang sangat tinggi tiada bandingannya.

Ketika berkecamuk perang Uhud. Handzhalah bin ‘Amir t hampir saja berhasil membunuh Abu Sufyan pemimpin pasukan kuffar Mekkah. Namun, salah seorang anggota pasukan Mekkah yang bernama Syaddad bin Sya’uub, berhasil mendahului dan memukul Handzhalah dengan pedangnya. Gugurlah Handzhalah sebagai syahid di perang Uhud itu.

Saat dikabarkan gugurnya Handzhalah kepada Rasulullah r, beliau berkata: “Dia dimandikan oleh malaikat. Tanyakanlah kepada istrinya!” Ketika ditanyakan kepada istrinya. Sang istri berkata: “Ia keluar dari rumah dalam keadaan junub” (H.R. Hakim. Lihat Al-Ishaabah; Ibnu Hajar ; II/119)

Begitulah Handzhalah, ia meninggalkan istrinya yang baru saja dinikahinya, ketika mendengar gemuruhnya pertempuran. Sebagai bukti cintanya yang sangat tingggi kepada Allah I dan Rasul-Nya r dan jihad di jalan-Nya. Maka Allah I pun membalas cintanya, memberi penghargaan yang sangat tinggi, dengan mengirimkan malaikat yang khusus ditugasi, untuk memandikannya.

One Comment leave one →
  1. m. fauzan al-husaeni permalink
    20 April 2010 08:50

    ba’da an qara’tu hadzihil hikayatil jamilah,,as’uru bil huzni,’alaa annaniii, lam aqdir ‘alal hubub ilallahil ‘aziz,,,,’asal llaahu ay-yaghfiroli……wa ‘as’a bijuhdi wadimaari…bil hubbi asyaddu hubban ilallohil ‘aziil hamiid……amiin yaa robbil ‘aalamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: