Skip to content

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

21 April 2009

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN


“Bacakanlah Al-Qur’an untukkku!” Pinta Rasululullah e kepada Abdullah bin Mas’ud, salah seorang shahabat yang terkenal ahli baca Al-Qur’an.

“Ya Rasulullah! akankah aku membacakan Al-Qur’an untukmu, padahal ia diturunkan kepadamu ?” tanya Abdullah .

“Ya“ jawab Rasullah e.

Selanjutnya, Abdulullah menuturkan: “Maka aku membacakan surat An-Nisaa, ketika sampai di ayat:

" فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلآءِ شَهِيدًا"

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). “ (An-Nisaa ; 41)

“Cukup“ kata Rasulullah.

Ketika aku melihat kepadanya, ternyata kedua matanya berlinang air mata. (H.R. Bukhari)

Begitulah keadaan Rasulullah e ketika dibacakan Al-Qur’an. Begitu juga kalau beliau membacanya sendiri. Beliau menghayati ayat-demi ayat yang dibacanya, baik ketika membaca Al-Qur’an di dalam shalat ataupun di luar shalat.

Hudzaifah bin Yaman t, menceritakan:

“Suatu malam, aku shalat bersama Rasulullah e. Beliau mulai membaca surat Al-Baqarah, sampai ayat keseratus, aku mengira ia akan ruku. Tapi ternyata beliau melanjutkan bacaannya. Ketika sampai dua ratus ayat, aku mengira ia akan ruku. Ternyata ia melanjutkan bacaannya sampai akhir surat. Aku mengira ia akan ruku’. Tapi ternyata beliau mulai membaca surat An-Nisa. Setelah selesai surat An-Nisa, beliau ruku. Dalam ruku’nya beliau membaca:

" سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ "

Ruku’ beliau itu hampir sama lamanya dengan berdiri… kemudian beliau sujud dan sujudnya itu sama dengan ruku’nya. Dalam sujudnya beliau membaca :

" سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى "

Dalam membaca Al-Qur’an, bila melewati ayat tentang rahmat, beliau memohonnya kepada Allah, dan bila melewati ayat tentang azab, beliau meminta perlindungan kepada Allah darinya. Dan bila melewati ayat tentang kesucian Allah, beliaupun bertasbih. (T.H.R. Ahmad)

Dalam Al-Qur’an Allah banyak mengungkapkan janji-janji untuk orang-orang yang berbuat baik; balasan-balasan untuk orang-orang yang mengabdikan hidupnya hanya untuk-Nya, menceritakan surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Semua itu memberikan harapan kepada orang yang membacanya, maka sudah sepantasnya ia meminta kebaikan-kebaikan itu kepada Allah.

Di samping itu juga Al-Qur’an banyak mengungkapkan ancaman-ancaman kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya, neraka dengan segala siksa yang ada di dalamnya. Semuanya memberikan rasa takut kepada orang yang membacanya, maka sudah sepantasnya ia memohon perlindungan Allah dari semua itu.

Orang-orang beriman yang takut kepada Allah, akan bergetar hatinya dan merinding seluruh tubuhnya saat mendengar atau membaca ayat-ayat Al-Qur’an,

" اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ " (الزمر : 23)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az-Zumar ; 23)

Allah I memuji orang-orang yang menangis dan bertambah kekhusyuannya saat membaca Al-Qur’an :

" إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا () وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولاً()وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا " (الإسراء : 107-109)

“Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi".dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi".dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`.

Orang-orang yang beriman dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan yang menimbulkan pemahaman, seakan-akan ia berkomunikasi langsung dengan Allah I, hal itu akan terjadi dalam kondisi-kondisi berikut:

ü Bila membaca ayat-ayat yang mengandung perintah, ia merasakan bahwa itu adalah perintah Allah I kepada dirinya untuk segera dilaksanakan. Dan ia khawatir bila dirinya tidak mampu melaksanakannya.

ü Bila membaca ayat-ayat yang mengandung larangan, ia merasa bahwa larangan itu ditujukan oleh Allah langsung kepada dirinya, agar ia menjaga dirinya. Ia pun khawatir dirinya tidak mampu menahan diri dari larangan itu.

ü Bila membaca ayat-ayat yang mengangkat kisah-kisah orang terdahulu, ia merasakan bahwa Allah I sedang bercerita kepadanya, untuk dijadikan sebagai cermin kehidupan. Jika yang diceritakan itu adalah kisah orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, berarti itu adalah tauladan yang harus diikuti. Dan jika yang diceritakan itu adalah kisah orang-orang kafir dan durhaka, berarti sebuah pelajaran agar ia tidak melakukan kesalahan yang sama.

ü Bila membaca ayat-ayat tentang rahmat, pahala dan surga serta keni’matan yang ada di dalamnya, ia sangat berharap untuk mendapatkannya, ia menangis karena khawatir dirinya tidak termasuk orang-orang yang mendapatkannya.

ü Bila membaca ayat-ayat tentang bencana, adzab (siksa) dan neraka serta segala penderitaan yang ada di dalamnya, ia meminta perlindungan kepada Allah, dan ia menangis karena takut kalau-kalau dirinya termasuk orang-orang yang mendapatkannya.

Menangis karena sedih atau takut dan menangis karena gembira adalah, satu hal yang wajar pada makhluq yang bernama manusia. Namun bila menangis itu karena takut kepada Allah, takut kalau dirinya tidak termasuk orang yang mendapatkan rido-Nya, dan takut kalau dirinya termasuk orang yang dibenci oleh-Nya, maka Allah telah menjanjikan balasan yang tiada taranya. Sebagaimana sabda Rasulullah :

" عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ " (رواه الترمذي)

“ Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka , mata yang menangis karena takut kepada Allah , dan mata terjaga sambil menjaga di jalan Allah.” (H.R. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaik Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidizi, no. 1639)

Menangis saat membaca Al-Qur’an adalah kebiasaan para shahabat Rasulullah e. Abu Bakar Shiddiq t misalnya, diriwayatkan bahwa beliau membangun mesjid di pekarangan rumahnya. Di situ ia shalat dan membaca Al-Qur’an. Perempuan-perempuan musyrik dan anak-anak kecil sering berkumpul di dekat mesjid itu, mereka kagum ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Abu Bakar. Beliau selalu menangis saat membaca Al-Qur’an.

Umar bin Khoththob t, suatu ketika mengimami shalat, ketika ia membaca ayat-ayat Al-Qur’an ia pun menangis, sampai terputus bacaannya. Tangisannya terdengar sampai tiga shaf ke belakang.

Begitulah, semakin banyak kita membaca biografi para shahabat, semakin banyak kita temukan bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu menangis saat membaca Al-Qur’an.

Interaksi para shahabat dengan Al-Qur’an saat mereka membacanya, juga diwujudkan dalam perilaku hidup mereka. Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian (para shahabat) menganggap bahwa Al-Qur’an itu adalah surat dari Allah Yang menciptakan mereka, maka mereka membaca dan merenungkannya di waktu malam, lalu mereka laksanakan di waktu siang.”

Perilaku para ahli Qur’an itu terlihat berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka memiliki keistimewaan dibandingkan manusia pada umumnya. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Hendaklah seorang ahli Qur’an itu diketahui pada saat malam hari ketika orang-orang tidur, di siang hari ketika orang-orang tidak puasa. Diketahui kesedihannya di saat orang-orang bergembira, tangisnya saat orang-orang tertawa, diamnya saat orang-orang berbicara dan kekhusyuannya di saat orang-orang lalai.”

Fudhail bin ‘Iyadl berkata: “Ahli Qur’an adalah pembawa bendera Islam, tidaklah pantas bila ia berleha-leha, lalai dan melakukan perbuatan sia-sia bersama orang-orang yang melakukannya, sebagai bukti rasa hormat dan pengagungannya terhadap Al-Qur’an.” Dalam kesempatan lain Fudhail juga mengatakan: "Tidak pantas bagi ahli Qur’an mempunyai kebutuhan kepada seorang khalifah (raja), apalagi bawahan- bawahannya.”

Ketenangan jiwa para ahli Qur’an, kedewasaan mereka dalam berfikir, kematangan mereka dalam bersikap dan kistiqamahan mereka dalam bertindak dan bertingkah laku adalah, cermin kebersihan jiwa dan hati mereka yang telah mendapat sentuhan Qur’an, membuat seluruh gerak-gerik mereka dalam bingkai nilai-nilai agung yang terkandung dalam Al-Qur’an. Maha benar Allah Yang menyatakan dalam firman-Nya :

" يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ()قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ(يونس : 57- 58)

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Yuunus ; 57-58)

Dan jangan lupa bahwa para ahli Qur’an adalah orang-orang istimewa di sisi Allah I. Rasulullah e bersabda:

"إن لله أهلين من الناس." قالوا: "من هم يا رسول الله؟" قال: "أهل القرآن هم أهل الله وخاصته"

"Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari manusia."

Para Sahabat bertanya: "Siapakah mereka wahai Rasulullah?"

Rasulullah menjawab: "Ahli Qur’an adalah keluarga dan orang istimewa bagi Allah I" (H.R. Nasai, Ibnu Majah dan Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at-Targhiib wat Tarhiib, no. 1432.

Bisakah kita menjadi bagian dari mereka ?

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: