Skip to content

Prakata


بسم الله الرحمن الرحيم


إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا عبده و رسوله.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أما بعد،
فإن أصدق الحديث كتاب الله، و خير الهدي هدي النبي صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار


Berangkat dari keinginan untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ” [آل عمران : 104]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Maksud ayat ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsîr, dalam kitab Tafsirnya yang monumental, bahwa hendaknya ada satu kelompok dari umat Islam yang menangani secara khusus tugas dakwah ini, walaupun sebenarnya ia merupakan kewajiban setiap individu dari umat Islam sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Dakwah adalah tugas mulia dan pekerjaan yang paling istimewa bagi manusia, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ” [فصلت : 33]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Dalam Tafsir Taisîr al-Karîm al-Rahmân, Syaikh Abd al-Rahmân al-Sa’dî menjelaskan bahwa pertanyaan dalam ayat ini mengandung makna peniadaan secara pasti, maka makna ayat ini adalah: tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya, perilaku dan keadaannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah”.

Hal itu tiada lain karena dakwah adalah tugas para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ” [يوسف : 108]

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “Perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya yang diutus kepada seluruh manusia dan jin, sebagai perintah untuk mengabarkan kepada mereka, bahwa inilah jalannya, perilaku dan sunnahnya, yaitu dakwah untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang hak selain Allah Semata, tidak ada sekutu baginya. Dia menyeru kepada Allah dengan jalan itu di atas hujjah yang nyata, keyakinan dan bukti. Dia yang melakukan itu dan setiap orang yang mengikutinya selalu berdakwah di atas hujjah yang nyata, keyakinan dan dalil syar’i serta dalil aqli.

Dalam praktiknya, dakwah tidaklah sesempit yang dipahami oleh banyak orang, yang beranggapan bahwa dakwah adalah ceramah atau pidato di atas podium saja. Syaikh al-Sa’dî menjelaskan kepada kita betapa luasnya medan dakwah yang bisa diterjuni oleh setiap Muslim, Beliau menyebutkan beberapa aktifitas yang bisa dikatergorikan sebagai dakwah kepada Allah, di antaranya sebagai berikut:

  1. Mengajar orang-orang yang tidak tahu.
  2. Menasihati orang-orang yang lupa dan berpaling.
  3. Berdebat dengan orang-orang yang menentang.
  4. Menyeru untuk beribadah kepada Allah dengan semua macamnya, mengajak orang untuk melaksanakannya dan memberbaikinya semampu mungkin. Terutama menyeru kepada pokok-pokok agama Islam
  5. Mencegah dari segala yang dilarang oleh Allah, mencelanya dengan segala cara agar orang-orang menjauhinya. Terutama kekufuran dan kemusyrikan yang sangat bertentangan dengan Islam
  6. Membuat manusia mencintai Allah, dengan cara menjelaskan nikmat-nikmat-Nya secara rinci, kebaikan-Nya dan kesempurnaan rahmat-Nya, juga dengan menyebutkan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung.
  7. Memberikan motivasi untuk mengambil ilmu dan petunjuk dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, mengajak manusia untuk itu dengan segala cara.
  8. Mengajak kepada akhlak yang mulia, berbuat baik kepada selutuh makhluk, membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan, memerintahkan untuk bersilaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua.
  9. Menasihati manusia secara umum pada waktu-waktu tertentu, saat terjadi peristiwa-peristiwa dan musibah yang sesuai denan kondisi yang ada.

Dari penjelasan Syaikh as-Sa’dî ini kita bisa menyimpulkan bahwa dakwah adalah sebuah istilah yang mencakup seluruh aktifitas mengajak manusia ke jalan Allah, dan setiap Muslim mempunyai kewajiban untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sesungguhnya masyarakat Muslim khususnya di Indonesia saat ini sangat membutuhkan para da’i yang memiliki pemahaman yang benar tentang Islam sesuai pemahaman salaf, yang membimbing mereka ke jalan Allah. Betapa parah kebodohan dan ketidaktahuan serta ketidakpedulian umat terhadap ajaran agamanya, sampai Syaikh Khalid al-Mushlih, murid dan menantu Syaikh ‘Utsaimin, berseloroh: “Anak saya yang baru kelas 4 Ibtidaiyyah saja, bisa jadi da’i di Indonesia ini.”

Berdasarkan itu semua, Pesantren Al-Ma’tuq memiliki visi menjadi Pesantren yang berkhidmah untuk dakwah. Artinya Pesantren akan mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk kepentingan dakwah dalam arti yang luas dan menyeluruh mencakup semua aktifitas yang telah disebutkan tadi. Dakwah yang dibangun di atas manhaj yang benar, dengan sumber Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman salaf, yang akan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.
Dengan visi tersebut, Pesantren Al-Ma’tuq mengemban dua misi:

  1. Mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal jama’ah sesuai pemahaman salafus-shalih.
  2. Menebarkan rahmat untuk seluruh umat.

Untuk merealisasikan visi dan misinya Pesantren membagi dua bidang dakwah, yaitu dakwah internal dan dakwah eksternal. Dalam dakwah eksternal, ada beberapa aktivitas yang dilakukan pesantren di antaranya: ta’lim rutin untuk masyarakat umum yang dilakukan di dalam Pesantren maupun di luar Pesantren; pemberian beasiswa dan pembinaan anak-anak yatim di luar pesantren; santunan untuk janda dan jompo, dan lain-lain.

Sedangkan dalam dakwah internal, Pesantren yang identik dengan lembaga pendidikan mengambil perannya dalam pendidikan tingkat menengah pertama (marhalah mutawassithah) dan menengah atas (marhalah tsanawiyah). Dan sampai tahun ajaran 1431-1432 H/2010-2011 M masih berkonsentrasi pada pembinaan santri-santri putra. Mudah-mudahan pada tahun ajaran berikutnya kami bisa memulai pembinaan santri-santri putri, yang karena kendala ketidaksiapan sarana dan prasarana belum bisa dimulai, walaupun lahan untuk pembangunan Pesantren putri sudah tersedia, dan sudah banyak orang tua yang berminat memasukkan putri-putrinya di Pesantren Al-Ma’tuq.

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه و سلم. و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

%d blogger menyukai ini: